Selasa, 28 Desember 2010

Tengil yang Idealis..

Banyak yang berubah dari semua cara yang aku lakukan kini. Nyata, menikmati hidup bukan harus dengan mengejar sukses atau mengejar sosok yang pasti sudah di tentukan.

Aku belajar dari mereka. Orang – orang tengil yang idealis. Sedikit tak pernah ada kata mengeluh, bukan karna tak punya keluhan, mungkin karna mereka BERSYUKUR.

“Bahagia ada “disini” bukan ada di orang lain. Bersyukur maka akan lebih merasakan yang namanya kebahagiaan. Bangladesh adalah Negara termiskin di dunia, tapi Bangladesh adalah Negara paling bahagia di dunia, karna mereka bersyukur. “
Saat keluhku tak dapat di bendung, kata – kata itu yang merasuk dengan sendirinya ke “sini” tanpa di sadari. Dan aku sadar aku lebih beruntung dari pada yang lainnya.

Aku belajar memikirkan hal-hal yang lebih penting untuk di fikirkan dari sekedar sosok yang pasti sudah di tentukan. Aku sadar, jodoh ku biar DIA yang mengatur. “klo soal cwe/cowo, buat gua lucu aja klo smpe di bawa rungsing”, mengingat kata ini seakan menyadarkan ku bahwa ini sudah ada yang mengatur. Hari ini dan seterusnya hanya perlu menjalani hidup ini dengan cara yang baik. Bukan dengan memikirkan hal-hal yang sudah di atur. Bukan karna “mentok”, atau bukan karna “berharap”, aku sudah tak ingin di bodohi oleh “keajaiban rasa” tapi semestinya aku yang memanajemen hati agar keajaiban rasa itu justru memberikan energi positive, bukan sebaliknya. Sulit. “Manajemen hati” tak segampang ketika aku mengetik kata itu. Tapi semua hal yang aku tau, semua akan jadi lebih ringan kalau menjalaninya dengan tulus. Semakin hari semakin aku rasakan. Aku mulai menikmati hidup ini.

Aku mungkin orang yang paling bodoh dalam menghadapi masalah. Di pendam dalam hati nyata tak menyelesaikan. Tapi bukan berarti aku harus mengumbar masalah. Aku hanya perlu melakukan, tidak melawan masalah dengan jalan beriringan itu lebih baik. Dan akhirnya bukan lagi menjadi beban fikiran. (aku berharap ini akan berjalan lama. Amin).

Mencoba membuka telinga tuk aliran musik yang lain. Nyata, musik lalu justru memberikan sugesti positive. “lagu jaman bokap gw banget siy sel”. Komen mereka. Tapi aku akui aliran musik ini bukan lagi menjadikan ku semakin autis. 

Singkatnya, “ngadain pola fikir, dengerin aliran musik yang beda, ngobrol sama orang-orang idealis, bergaul sama orang yang bersyukur, Jadi lebih ngerti gimna nikmatin hidup dengan cara yang baik.”

Terima kasih. Memberi sedikit rongga di otak ku agar menyadari ada cara lain yang lebih baik dalam menjalani hidup ini.

Selasa, 26 Oktober 2010

Mo meledaakkk..

AAAAAARRRRRRRRGGGGGHHHHH ....
Rasanya dah ga kuat, ga sanggup, ga tahan, ga bisa, nahan rasa yang terlalu mebara dalam diri ini. Gw ga sanggup nahan semua ini. Gw ga bisa di hantui perasaan kayak gini. Setiap malem harus bangun karna mimpiin rasa itu lagi. Huuuhhff.. Help me plis GOD . aku dah ga tahan. Ambil aja rasa ini karna aku ga mau milikin rasa ini buat dia. Tolong aku Tuhan pliss.. HELP ME PLIISS... gw selalu menangis sejadi - jadinya saat rasa itu datang. Gw gigit ujung bantal gw dan ngeluarin semua tenaga gw buat ngelegain perasaan gw. Gw ga sanggup beneran ga sanggup. Bisa sakit jiwa klo kyk gini trruuss.. Tuhan plis. ela mohon dengan sangat. Hilangkan rasa ini. Bener - bener dah ga sanggup. Ela mohon dengan sangattt...

Rabu, 03 Maret 2010

Jee....

Jk sdh trll jauh,DOI yg akn mdkt..jk sdh trll letih,msh trsdia naungan ksjukan..
Jgn trima ni apa ada'y krn sat hti yg bicara hny Allah yg mdgrkan..princilah tiap untaian kata hti tu dan rasakan kbnran'y..
Jk sdh myadari ad makhluk yg mghalangi knp tak terus c0ba membentengi,.
Jk hati ni sdh trllu rapuh mencintai ykinkan diri Ia smqn gigih mcintai,
jk tak ingn jd mentari tak prlu jd awan kelabu syg,.... See More
Brsiap lah dsna dan ikhlaskan hti tk menerima chaya dr mentari lain..

*la yg ssh mmg mprthnkan hdayah..mk'y org yg mlakukan ibdh wlw sdqt tp k0nsisten lbh dsukai Allah..
Zhy syg La..

K Fay syg La,
irna..
fitri..
Thya..
July..
Cha..
Smw'y syg kamu..
Mksh y..

Sabtu, 14 November 2009

hhhhmmmm...


Sepi...
Tak ada suara yang menemani ku kali ini. Hanya itu yang ku rasa sekarang. Tak ada lagi getaran hati yang membuat ku takut padaNya. Sepi kurasa karna aku tlah merobohkan bangunan taqwa yang telah ku bangun dengan susah payah. Dan ntah mengapa kini aku robohkan dengan penuh kemarahan. Mungkin aku lupa bahwa masih ada campur tangan mereka saat aku membangunnya. Mereka pun hanya bisa bertanya " Mengapa kau merobohkan bangunan yang tlah kau bangun dengan kami? ". Aku hanya diam tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungil ini. Tak ada alasan yang tepat mengapa aku merobohkannya. BOSAN. Mungkin hanya kata itu yang mampu mewakilkan semua alasan ku. Ntahlah... hati ini rasanya sepi tanpa bangunan taqwa...

Bingung..
Aku tak tau harus berlari kemana saat ego mulai mengendalikan aku tuk melupakan bangunan itu. Jauh di dasar batin ku yang menyala, aku inginkan bangunan itu kembali seperti dulu, seperti awal aku membangunnya. Tapi rasanya tak mungkin. Karna aku harus membangunnya dari awal. Dan aku membutuhkan hati yang bersih, fikiran yang yakin dan percaya bahwa DOI mengatasi aku di Atas sana. Aku pun mundur tuk kesekian kalinya saat aku meyakini bahwa aku mampu membangunnya lagi. Oh Tuhan,, apa yang harus aku lakukan agar ego ku tak lagi mengusir keyakinan itu. Agar aku mampu dan percaya bahwa bangunan itu mampu aku bangun kembali seperti dulu.. Ya,, bangunan Iman dan Taqwa yang selalu membuatku takut pada Nya,,,

INgin...
Aku ingin dekat dengan DOI seperti dulu. Keinginan untuk mengembalikan hati ku yang bergetar hebat saat lantunan ayat suci aku baca dengan penuh kesunyian. Keinginan agar air mata ku meleleh saat aku mendengar dengan sayup bait - bait syair lagu " Ku tau cinta mu kepada umat, ummati ummati ". Dan aku ingin menjadi investasi tuk keluarga ku kelak..

Uffhhh namun SULIT...

Kamis, 12 November 2009

Doa Ayah


Tuhan..
Bentuklah anakku menjadi manusia yang cukup kuat manakala ia lemah..
Dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut..
Ia yang bangga dan teguh dalam kekalahan yang terhormat..
Dan rendah hati serta berbudi pekerti dalam kemenangan..

Bentuklah ia menjadi manusia yang hasratnya tidak melebihi kemampuannya..
Seseorang yang mengenal Engkau dan sadar bahwa diri MU adalah landasan dari ilmu pengetahuannya..
Pimpinlah ia bukan dijalan yang mudah da nyaman..
Tapi di bawah tekanan dan deskan dari kesulitan dan tantangan..

Ajarkan ia tuk berdiri di atas badai..
Ajarkan ia tuk belas kasih pada mereka yang gagal..

Bentuklah ia menjadi manusia yang hatinya jernih..
Cita - citanya tinggi..
Seseorang yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain..
Ia yang belajar tuk tertawa tapi tak lupa untuk menangis..
Ia yang menjangkau masa depan belajar dari masa lalu..
Dan setelah semua menjadi miliknya lagi ..

Aku berdoa..
Berika ia perasaan jenaka agar ia selalu bisa serius tanpa menjadikan dirinya terlalu serius..
Anugrahkan ia kerendahan dari kebesran sejati..
Keterbukaan pikiran dari kebijakan sejati..

Maka aku,,,
Akan berani berbisik,, hidupnya tidak sia - sia...

Pengelana...


Saat suara - suara berbicara

Jejak kisaran pohon - pohon meranti ikut berlari bersama langkah


Peri di ujung sana memberi ku nafas

Bersama dengan itu juga ku kecewakan dia

Tapi dengan itu tetap kamu saling melihat


Tanpa akhir meranti cuma berkata

" Terima kasih banyak tlah sudi ikut dalam kisah ini "


" Semua kata - kata ini membuat aku mengerti arti hadir ku selama ini tak membuat mu mencintai aku... "

Rabu, 11 November 2009

From Him

Siang hari bergabung kumpulan malam
Sebatas senja yang tenggelam
Ini bagian rautan muka mu yang terungkap
Dari kaca kecil pelupuk lara

Selalu sajak selalu patah selalu begini
Tak berarti belum tak berarti bisa
Puji - pujian terungkap dari 4 mata 2 insan
Yang ku curi tapi tak kusadari
Yang kau rasa tapi tak kau tumpahkan

Bukan segenap rasaku yang membebani mu
Kering rasa seperti Kering hati
Hijau daun seperti awal berkenalan

Semua sudah lengkap
Semua ini semoga jelas
Jelas dengan senja yang tenggelam
Jelas dengan semua hari
Jelas telah terungkap





"Aku sangat mengerti bahkan sangat memahami arti semua ini. Ungkapan hati yang sangat terarah dan tak ada sedikitpun bait yang membuat aku sakit hati. Justru aku malu pada diri ku sendiri yang tak tau diri. Ternyata semua sikap ku membuat kau pergi dari hidup ku. Aku bingung saat aku ada masalah bathin yang mengingatkan ku pada seseorang yang seharusnya tak perlu lagi ku ingat. Aku butuh kamu tuk memberikan aku support bathin agar aku mampu melupakannya bahkan membuangnya jauh dari fakir ku.

Tapi apa yang bisa ku lakukan saat kau lambaikan puisi itu menjadi akhir pertemanan kita. Aku berharap kau punya waktu tuk mendengar, menasehati aku. Thanx before.
Aku sangat merindukan mu…"