Sabtu, 14 November 2009

hhhhmmmm...


Sepi...
Tak ada suara yang menemani ku kali ini. Hanya itu yang ku rasa sekarang. Tak ada lagi getaran hati yang membuat ku takut padaNya. Sepi kurasa karna aku tlah merobohkan bangunan taqwa yang telah ku bangun dengan susah payah. Dan ntah mengapa kini aku robohkan dengan penuh kemarahan. Mungkin aku lupa bahwa masih ada campur tangan mereka saat aku membangunnya. Mereka pun hanya bisa bertanya " Mengapa kau merobohkan bangunan yang tlah kau bangun dengan kami? ". Aku hanya diam tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungil ini. Tak ada alasan yang tepat mengapa aku merobohkannya. BOSAN. Mungkin hanya kata itu yang mampu mewakilkan semua alasan ku. Ntahlah... hati ini rasanya sepi tanpa bangunan taqwa...

Bingung..
Aku tak tau harus berlari kemana saat ego mulai mengendalikan aku tuk melupakan bangunan itu. Jauh di dasar batin ku yang menyala, aku inginkan bangunan itu kembali seperti dulu, seperti awal aku membangunnya. Tapi rasanya tak mungkin. Karna aku harus membangunnya dari awal. Dan aku membutuhkan hati yang bersih, fikiran yang yakin dan percaya bahwa DOI mengatasi aku di Atas sana. Aku pun mundur tuk kesekian kalinya saat aku meyakini bahwa aku mampu membangunnya lagi. Oh Tuhan,, apa yang harus aku lakukan agar ego ku tak lagi mengusir keyakinan itu. Agar aku mampu dan percaya bahwa bangunan itu mampu aku bangun kembali seperti dulu.. Ya,, bangunan Iman dan Taqwa yang selalu membuatku takut pada Nya,,,

INgin...
Aku ingin dekat dengan DOI seperti dulu. Keinginan untuk mengembalikan hati ku yang bergetar hebat saat lantunan ayat suci aku baca dengan penuh kesunyian. Keinginan agar air mata ku meleleh saat aku mendengar dengan sayup bait - bait syair lagu " Ku tau cinta mu kepada umat, ummati ummati ". Dan aku ingin menjadi investasi tuk keluarga ku kelak..

Uffhhh namun SULIT...

Kamis, 12 November 2009

Doa Ayah


Tuhan..
Bentuklah anakku menjadi manusia yang cukup kuat manakala ia lemah..
Dan cukup berani menghadapi dirinya sendiri manakala ia takut..
Ia yang bangga dan teguh dalam kekalahan yang terhormat..
Dan rendah hati serta berbudi pekerti dalam kemenangan..

Bentuklah ia menjadi manusia yang hasratnya tidak melebihi kemampuannya..
Seseorang yang mengenal Engkau dan sadar bahwa diri MU adalah landasan dari ilmu pengetahuannya..
Pimpinlah ia bukan dijalan yang mudah da nyaman..
Tapi di bawah tekanan dan deskan dari kesulitan dan tantangan..

Ajarkan ia tuk berdiri di atas badai..
Ajarkan ia tuk belas kasih pada mereka yang gagal..

Bentuklah ia menjadi manusia yang hatinya jernih..
Cita - citanya tinggi..
Seseorang yang sanggup memimpin dirinya sendiri sebelum berhasrat memimpin orang lain..
Ia yang belajar tuk tertawa tapi tak lupa untuk menangis..
Ia yang menjangkau masa depan belajar dari masa lalu..
Dan setelah semua menjadi miliknya lagi ..

Aku berdoa..
Berika ia perasaan jenaka agar ia selalu bisa serius tanpa menjadikan dirinya terlalu serius..
Anugrahkan ia kerendahan dari kebesran sejati..
Keterbukaan pikiran dari kebijakan sejati..

Maka aku,,,
Akan berani berbisik,, hidupnya tidak sia - sia...

Pengelana...


Saat suara - suara berbicara

Jejak kisaran pohon - pohon meranti ikut berlari bersama langkah


Peri di ujung sana memberi ku nafas

Bersama dengan itu juga ku kecewakan dia

Tapi dengan itu tetap kamu saling melihat


Tanpa akhir meranti cuma berkata

" Terima kasih banyak tlah sudi ikut dalam kisah ini "


" Semua kata - kata ini membuat aku mengerti arti hadir ku selama ini tak membuat mu mencintai aku... "

Rabu, 11 November 2009

From Him

Siang hari bergabung kumpulan malam
Sebatas senja yang tenggelam
Ini bagian rautan muka mu yang terungkap
Dari kaca kecil pelupuk lara

Selalu sajak selalu patah selalu begini
Tak berarti belum tak berarti bisa
Puji - pujian terungkap dari 4 mata 2 insan
Yang ku curi tapi tak kusadari
Yang kau rasa tapi tak kau tumpahkan

Bukan segenap rasaku yang membebani mu
Kering rasa seperti Kering hati
Hijau daun seperti awal berkenalan

Semua sudah lengkap
Semua ini semoga jelas
Jelas dengan senja yang tenggelam
Jelas dengan semua hari
Jelas telah terungkap





"Aku sangat mengerti bahkan sangat memahami arti semua ini. Ungkapan hati yang sangat terarah dan tak ada sedikitpun bait yang membuat aku sakit hati. Justru aku malu pada diri ku sendiri yang tak tau diri. Ternyata semua sikap ku membuat kau pergi dari hidup ku. Aku bingung saat aku ada masalah bathin yang mengingatkan ku pada seseorang yang seharusnya tak perlu lagi ku ingat. Aku butuh kamu tuk memberikan aku support bathin agar aku mampu melupakannya bahkan membuangnya jauh dari fakir ku.

Tapi apa yang bisa ku lakukan saat kau lambaikan puisi itu menjadi akhir pertemanan kita. Aku berharap kau punya waktu tuk mendengar, menasehati aku. Thanx before.
Aku sangat merindukan mu…"

Selasa, 10 November 2009

Think Of Sella




New New New......